Selasa, 14 Mei 2013

kehilanganmu


Di pagi hari ku buka jendela kamarku, lalu ku keluar dari kamarku. Melihat, mendengar dan merasakan itu yang ku rasakan sekarang.
Melihat burung yang berkicau di pagi hari.
Mendengar suara burung di sekitarnya.
Merasakan sejuknya pagi hari, hanya itu yang ku rasakan sekarang, tiba-tiba ada seseorang datang menghampiriku.
“hayooh… tebak aku siapa?” tanya dia sambil menutup mataku
Saat itu aku merasakan ada perasaan yang susah tuk di ucapkan namun hanya bisa di rasakan
“entah lah, engkau siapa?” jawabku sambil tersenyum.
Lalu ia membuka mataku, dan aku lihat ia orang yang ku sayang…
Lalu ku duduk di bawah pohon bersamanya. Ku lihat wajahnya, ku tatap matanya dan ku lihat senyum manis di bibirnya. “Maafkan aku nit, aku harus mengatakan ini sekarang, meski ini berat bagiku tapi ku harus mengatakan nya” ucap aldi.
“apa yang ingin engkau katakan” ucapku sambil merasa penasaran
“aku harus meninggalkanmu mungkin hari ini saja ku bisa bersamamu lagi” ucap aldi sambil memegang tanganku.
hatiku sakit mendengar ucapan itu langsung dari mulutnya, air mataku perlahan lahan membasahi pipiku, tak sanggup ku merasa sakit yang kurasa kini. Perlahan-lahan ia melepaskan pegangan tangan nya…
“maafkan aku” ucap dia sambil tersenyum.
Lalu ia pergi tinggalkan aku, yang ku rasa kini kehilangan, hidupku terasa berbeda saat ku kehilangannya, dan kini aku mengerti apa itu “KEHILANGAN”
ia hanya meninggalkan senyum dan kenangan.
ya tuhan… Betapa bahagianya saat bersamanya, dan betapa sakitnya berpisah dengan nya. Kini ku mengerti arti kasih sayang dan kehilangan.
Setelah itu aku pulang ke rumahku.
“Kenapa nak, kok kamu menangis?” ucap ibuku sambil ke bingungan.
Aku tak mampu tuk berkata apapun, aku hanya menjawab “tak apa-apa bu!” sambil berlari ke kamarku.
Ku mencoba tegar, aku harus hadapi semua ini. Aku coba bangkit dari masa lalu, dan kini ku coba membuka lembaran baru..

aku bisa


Awalnya aku ragu dalam menghadapi hidup ini, banyak anak manusia yang memandang pertemanan hanya melalui fisik saja tanpa melihat dasar isi hati yang paling dalam. Aku ragu dalam memilah milih teman, apa lagi partner yang sesungguhnya sangat ingin sekali kumiliki.
Di sekolah, banyak sekali teman yang menjauhiku, mencampakkanku, dan menganggap ku tak ada. Aku sedih dan kecewa dengan semua yang dilakukan temanku. Apakah mungkin hanya karena keterbatasan fisik yang aku miliki, mereka tega melakukan perbuatan yang sudah ku anggap sangat keji itu? Atau adakah alasan lain yang lebih logis dan dapat dengan mudah ku terima tentang pembully-an – pembully-an yang mereka tindaskan padaku? Entahlah aku tak dapat berpikir apa-apa lagi tentang ini.
“Fitrah!” Seorang teman dari jauh memanggilku yang sedang mendengarkan rekaman yang sengaja ku rekam ketika guru bahasa Indonesiaku menerangkan suatu pelajaran. Tampaknya ia sedang membutuhkan bantuanku yang terlihat dari nada suaranya yang lirih. Atau jangan-jangan Ia hanya menjebakku agar aku terkecoh dan rencana yang telah di susun kawan-kawanku untuk membully-ku kembali terulang dan berhasil menggoreskan luka dihatiku.
Oh ya! Namaku Fitrah, Aku adalah anak perempuan penyandang tuna netra. Aku tidak sekolah di Sekolah Luar biasa memang. Karena aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa prestasiku dapat menyaingi kemampuan anak lain yang rata-rata berkefisikan normal. Aku tak malu untuk menimbah ilmu di sekolah ini walau dengan beribu keterbatasan, apa lagi dalam hal penglihatan.
Namun, jangan salah. Dalam melangkah aku tidak akan menyusahkan siapa-siapa. Sebuah tongkat dan kaca mata hitam untuk penyandang tunanetra sepertiku dapat membantuku dalam melangkah. Meski terkadang aku sering terjatuh, tersandung bantu dan lainnya. Mungkin itu karena aku kurang berhati-hati dan instingku tidak kupakai waktu aku melangkah.
Suara yang menyahutkan namaku itu mulai mengganggu pikiranku. Rasa takut mulai menghantui. Tubuhku menggigil dan berkeringat dingin. Dalam hati aku berucap “Aku tak mau di bully lagi, sudah cukup di hari kemarin kalian membullyku, mempermalukanku, menjatuhkan harga diriku. Untuk hari ini jangan! Aku ingin hidup dengan tenang seperti anak lainnya”
“Fitrah! Sini. Ada orang yang nyariin kamu nih.” Aku tak mengacuhkannya, terus saja aku mendengarkan sebuah rekaman dengan balutan suara guru Bahasa Indonesiaku yang sangat lantang namun merdu itu. Bahasa Indonesia memang pelajaran favoritku. Meski aku tak dapat melihat namun aku senang mendengarkan atau memperhatikan sesuatu yang berhubungan dengan sastra.
Sejenak, hati nuraniku bergetar. Mungkinkah aku akan salah besar apabila yang dikatakan temanku benar jika ada yang mencariku namun sampai saat ini aku tidak mengindahkannya? Demi Tuhan, aku takut penindasan itu terjadi. Aku tak mau. Aku mulai bimbang dengan semua ini.
Aku mengikuti sumber suara itu. Rasa takut ku tepis begitu saja. Senyum yakin menyungging di bibirku. Harapan-harapan akan tidak terjadinya kejadian yang buruk mulai terbit di hatiku. Pikiran positif harus selalu ada di otakku, walau terkadang yang terjadi bukanlah suatu hal yang indah dan bukanlah suatu hal yang aku inginkan.
Tiba di suatu tempat, tempat seorang teman memanggil namaku berdiri. Aku mencari sosok orang yang sedang mencariku itu, namun sunyi yang ku rasakan. Tak ada selirik suara yang kudengar. Dan tiba-tiba saja “Byuuaaarrrrrr!!!” Tubuhku basah kuyup ada seseorang yang sengaja menyiramku dari belakang. Lalu muncul ribuan caci menyerangku “Orang buta, orang buta, orang buta!” Dengan bahagianya mereka mendendangkan cacian itu. Tuhan sekejam itukah mereka terhadapku. Dan begitu kejikah diriku sehingga mereka tega mempermainkan aku terus menerus.
Aku menghambur dari tempatku berdiri. Aku berjalan setengah berlari dan masih dengan sebuah tongkat dan kacamataku yang setia menemaniku. Tubuhku makin menggigil saja karena seluruh tubuhku basah kuyup tak terkecuali seragamku. Aku kehilangan arah seakan-akan aku menyerah, tak ada yang menopangku, tak ada yang peduli dengan keadaanku. Betapa tersiksanya menjadi seorang tunanetra yang di anggap hina sepertiku. “Tuhan, Kirimkan aku seberkas cahaya yang dapat membuat langkahku kembali cerah. Ampunilah mereka yang selalu membuat hidupku hancur berantakan. Ampuni mereka Tuhan. Walau bagaimanapun mereka tetap temanku. Mereka tidak buta penglihatan namun mereka buta hati. Aku tahu mataku tidak akan kembali normal. Namun setidaknya Engkau mau menyembuhkan mereka, menyadarkan mereka tentang apa yang telah mereka perbuat.” Doaku dalam hati dengan terus merintikkan air mata.
Aku menyelinap masuk kedalam kamar mandi perempuan. Aku menyendiri di sana namun lagi-lagi tongkat dan kacamataku yang setia menemani. Airmataku terus mengalir diam-diam jatuh di bajuku. Kini basahnya seragamku bukan hanya berasal dari siraman air yang sengaja disiram tadi mungkin bisa jadi airmataku turut serta membasahinya.
“Tok-tok-tok. Fitrah. Fitrah. Kamu nggak kenapa-kenapa kan?” Sebuah suara terdengar dari sisi pintu kamar mandi. “Aku nggak papa. Siapa di sana?” Aku mencoba menjawabnya setelah menyeka airmataku. “Aku shinta temen sekelasmu, bisakah kamu keluar sebentar. Aku pingin ngomong.” Aku pun keluar dari kamar mandi menuju kediaman Shinta.
“Fit, Maaf ya aku nggak pernah ngajak kamu main, nggak pernah ngajak kamu belajar bareng. Nggak pernah ngajak kamu komunikasi, sebenernya aku takut banget kamu malah tambah di bully gara-gara aku temenan sama kamu. Sebenernya udah lama banget aku pingin temenan sama kamu. Tapi apa daya, aku terlalu takut aku terlalu cemen. Maaf ya” Kata-katanya penuh dengan penyesalan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena masih ada orang selembut Shinta mau peduli denganku. Aku tersenyum ikhlas lalu berkata “Nggak papa kok, Shin. Aku udah terbiasa kayak gini. Makasih ya udah mau jujur sama aku.”
Ia meraih tanganku lalu menggenggamnya dengan erat dan penuh perasaan. “Kamu mau nggak jadi temenku, kalo bisa sahabatku? Mau nggak? Cari temen kayak kamu itu susah banget lo.” Aku tersipu dengan ucapannya, jelas sekali aku mau berteman dengan Shinta yang bersosok sangat terima apa adanya itu. Bagiku ia adalah seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemaniku setelah sekian lama aku menghadapi hari-hariku sendiri.
“Duduk sebangku bareng aku yuk? Mau nggak? Udah lama kan kamu duduk sendiri?” Ia menarikku lalu mengisyaratkanku untuk duduk pada kursi panjang yang di sediakan karyawan sekolah di kamar mandi. “Kamu nggak bercanda kan? Tapi gimana kalo aku nantinya Cuma ngerepotin kamu? Aku nggak mau buat kamu susah.” Aku mulai gelisah, dan harapan untuk mendapatkan teman duduk sebangku mulai lenyap.
“Nggak kok, aku malah seneng banget bisa duduk bareng kamu” Aku tersenyum mendengar penjelasannya. “Eh, bajumu basah banget tahu nggak, mau pake baju olahragaku?” Ia menyodorkan sebuah seragam olahraga kepadaku. Sebenarnya aku merasa telah merepotkan, namun harus bagaimana lagi aku tidak ingin jatuh pingsan hanya karena tubuhku menggigil akibat baju basah yang ku kenakan.
Setelah ku kenakan seragam milik Shinta ketubuhku, aku dan Shinta meninggalkan kamar mandi bersama-sama. Ia menggenggam tanganku seraya membantuku berjalan. Dengan percaya diri aku melangkah bersamanya. Tanpa rasa ragu aku menunjukan pada semua orang bahwa hari ini aku telah memiliki seorang sahabat. Sahabat yang bisa menerima keadaan, apapun keadaanku.
Aku bangga kepada Shinta, Ia tak malu memiliki teman sepertiku. Kali ini aku tak merasa sendiri lagi. Ada Shinta yang menemaniku. Hari demi hari ku hadapi bersamanya. Walau kadang cercaan cercaan selalu muncul dari mulut temanku yang merasa iri denganku. Ia tetap bersamaku, bahkan tidak malu untuk menggenggam tanganku dan memeluk tubuhku dihadapan mereka yang selalu mencercaku.
Hingga suatu hari, guruku mengutusku untuk mengikuti lomba membaca puisi antar SMP tingkat kabupaten dalam meperingati hari pendidikan nasional. Aku memang sangat suka sekali puisi. Sudah lama sekali aku ingin mengikuti ajang ini. Namun suatu bencana menimpaku. Kacamata khusus tunanetra milikku rusak hingga aku tak dapat mengenakannya lagi. Ayahku berusaha memperbaikinya, karena untuk memperbaikinya butuh biaya yang sangat mahal dan Ayahku tidak memiliki sejumlah rupiah untuk membayarnya. Aku merasa kesulitan tanpa kacamata tersebut. Hari menuju perlombaan sudah semakin dekat namun kacamata tunanetraku masih belum kunjung sembuh. Terpaksa aku hanya menghandalkan tongkatku.
Shinta turut berduka, namun aku selalu meyakinkannya bahwa aku masih bisa melangkah walau tanpa kacamata tersebut. Aku akan mengikuti perlombaan yang sudah lama ku impikan walau tanpa kaca mata yang sangat setia padaku itu. Shinta berjanji padaku akan membantu membimbingku melangkah apabila aku mengalami kesulitan nantinya.
Tiba pada hari perlombaan, ku mantapkan hatiku kembali. Ku pendam semua rasa grogi. Aku yakin aku bisa karena aku telah berlatih, berlatih dan berlatih tanpa melupakan doa yang berisi harapan semoga gadis tunanetra sepertiku dapat mengharumkan nama sekolahku.
Shinta berjanji padaku akan menjemputku dan mengantarku ke tempat aku berlomba nanti bersama keluarganya. Shinta bilang, Ia pernah menceritakan semua tentang diriku kepada keluarganya sehingga membuat orang tua Shinta yang terkenal dermawan ingin bertemu denganku. Dan pada kesempatan ini mereka tidak akan menyia-nyiakannya.
Aku sudah menunggu 1 jam lamanya di teras depan rumahku. Menunggu keluarga Shinta pastinya. Aku sengaja menunggu lebih awal supaya nanti ketika keluarga Shinta datang aku tak perlu tergesa-gesa. Aku sudah mengenakan seragam yang sangat rapi sesuai dengan apa yang di harapkan panitia. Namun, keluarga Shinta tak kunjung tampak kehadirannya. Hingga waktu menuju ke perlombaan semakin dekat. Ibuku memberi isyarat padaku untuk segera berangkat menuju tempat perlombaan. Tapi aku tetap bertekat ingin menunggu keluarga Shinta, aku tak ingin membuat keluarga Shinta kecewa.
Ibuku menawarkan diri untuk mengantarku. Namun aku tak mau dan terus menunggu. Dalam pikiranku, mungkin keluarga Shinta sedang di timpa macet sehingga mereka telat menjemputku. Waktu telah melampaui waktu perlombaan di mulai, aku harus segera beranjak, jika tidak aku tidak akan mengikuti perlombaan tersebut.
Aku berpamitan pada Ibuku. Aku meminta izin untuk berangkat menuju tempat perlombaan. Lagi-lagi Ibu menawarkan untuk mengantarku. Namun kali ini aku tak ingin menyusahkan Ibu, hari ini kondisi kesehatan ibu sedang tidak stabil, jadi kuputuskan untuk berjalan sendiri dengan tongkat yang kumiliki dan tanpa kaca mata yang menemani. Aku yakin aku dapat sampai ketempat yang kutuju dengan selamat karena aku telah mendapat restu dari Ibu.
Aku berjalan sendiri di pinggir jalan yang cukup ramai. Sebenarnya ada rasa takut yang membayangi. Tapi aku tak peduli. Guru-guru pasti sudah menungguku di sana. Teman-teman? Entah sepertinya mereka tak begitu mengharapkan kemenanganku. Apa pentingnya bagi mereka. Mungkin mereka hanya dapat mem-bullyku dan berusaha melunturkan asaku. Aku terus berdoa semoga hari ini lancer dan tidak ada pihak yang merasa kecewa.
Sudah cukup jauh aku melangkah. Aku merasa ada kendaraan yang akan melintas di depanku. Aku terus berfikir positif. Namun jaraknya semakin lama semakin dekat. Kekhawatiranku mulai melambung tinggi. Suara mobil dapat kudengar dengan jelas. Tiba-tiba ada sepasang tangan menarik tubuhku sehingga membuat aku terpaksa menghempaskan tongkatku. Suara rem cakram mobil mulai terdengar, gemuruh orang berbisik juga dapat ku tangkap. Pemilik sepasang tangan tersebut adalah Shinta. Shinta memeluk tubuhku dengan erat dan penuh kasih sayang seraya berkata “Kamu nggak papa kan, Fit?” aku yang masih merasa sedikit shock menjawab dengan tenang “Aku nggak papa, makasih ya udah mau nolongin aku.”
Shinta mengajakku menuju mobilnya, sebelumnya Ia membantuku mengambil tongkat yang terlempar jauh dari kediamanku. Di mobil milik Shinta, aku sedikit berbincang-bincang dengan orangtua Shinta.
“Maaf ya, sayang tadi Tante telat jemput kamu. Tante masih ada rapat penting di kantor.” Suara lembut Mama Shinta berhasil menenangkan perasaanku yang luluh lantah karena kecelakaan yang nyaris terjadi akan merenggut nyawaku. Aku tersenyum, Papa dan Mama Shinta sangat bangga kepada anaknya karena berkat keberaniannya menarik tubuhku, nyawaku tidak jadi hilang. Papa dan Mama Shinta juga banyak berbincang-bincang denganku, mengenai sekolah dan lain sebagainya.
Sesampainya di tempat perlombaan. Suasana memang sangat meriah. Aku dapat mendengar suara peserta yang mebacakan puisinya dengan indah. Di antar Shinta dan Mama Shinta, aku menuju tempat guru Bahasa Indonesiaku berada. Beliau tak henti-hentinya memotivasiku sehingga gergi yang sebenarnya sejak dari tadi sudah hilang namun datang lagi berhasil lenyap berkat semangat dari guruku. Aku tidak pernah merasa malu karena kekuranganku. Justru di ajang ini aku ingin menunjukan bahwa seorang tunanetra sepertiku mampu bersaing dengan anak-anak yang secara fisik normal.
Ini waktuku untuk tampil dengan puisiku. Aku tak perlu membacanya, aku sudah hafal tiap-tiap baitnya. Puisi yang aku bawakan adalah puisi karya Guru Bahasa Indonesiaku sendiri, Bu Indri. Beliau membuatkan puisi yang pas untukku. Sebenarnya aku memiliki puisi sendiri. Namun Bu Indri menyarankan agar aku membawakan puisinya saja karena makna dalam kata-katanya yang sangat mudah sehingga memungkinkanku untuk berlatih dengan mudah.
Setelah tampil dengan percaya diri. Aku kembali duduk di samping Bu Indri. Tepuk tangan masih dapat ku dengar. Ternyata aku adalah peserta terakhir dalam perlombaan ini. Dan pemenang akan di umumkan dalam waktu setengah jam lagi. Aku menunggu dengan sabar di sana. Shinta kali ini menggenggam tanganku seraya meyakinkanku “Kamu pasti menang, Penampilanmu barusan bagus banget.” Dan ternyata yang dikatakan sahabatku benar. Aku mendapatkan juara pertama karena kelancaranku membawakan puisi tanpa satupun partitur yang ku bawa. Aku bersyukur kepada Tuhan. Akhirnya impianku tercapai walau harus jatuh bangun dalam meraihnya. Aku mendapatkan sebuah piala dan piagam dari panitia yang akan ku abadikan di sekolahku. Mama Shinta memberikanku penghargaan pula yaitu sebuah kaca mata tunanetra yang masih baru. Pasti harganya sangat mahal, aku menolaknya namun Mama Sinta menyangkal dan berkata “Ini juga penghargaan buat kamu karena kamu udah mau jadi sahabat Shinta” tanpa ragu aku menerimanya.
Kini penindasan dan pembully-an mulai sirna. Aku sudah jarang sekali mendengar cacian dari teman-teman yang iri padaku. Kali ini aku dapat menunjukkan bahwa orang cacat dan buta sepertiku dapat menyaingi orang normal pada umumnya. Teman-teman mulai berdatangan padaku untuk di ajari teknik membaca puisi dengan benar. Dengan senang hati aku mengajarkannya. Kini banyak lawan yang ingin menjadikanku kawan. Sedangkan Shinta saat ini bukan hanya seorang sahabat melainkan juga partner hidup yang aku impikan.

I'm sorry I love U


“Diaaaa, please stop, dengarkan aku bicara sebentar, aku mohon untuk kali ini sajaa, Anindya putri! Aku mohon untuk yang terakhir kalinya,” jeritku di pelataran parkir kampus bawah fakultas ekonomi, tak aku hiraukan tatapan mata para mahluk yang sedang melewati area itu, aku hanya sedang berusaha mengejar kekasihku, dengan gontainya aku terus mengejar dia, hingga ia menghilang, entah ke mana. Ini pukulan berat bagiku, hari ini dia benar-benar marah atas sikapku, entah apa yang harus aku perbuat, ini salahku, kesalahan yang untuk kesekian kalinya aku perbuat, aku hentikan langkahku di sebuah taman, aku mencoba menjejaki kesalahan yang telah membuat dia begitu marah, hingga alisnya menyatu membuatku terbelalak kaget dan menahan ketawa.
Dia nama pangilan buat kekasihku ini, dia begitu anggun, cerdas, supel dan sangat cerewet, cerewetnya mengalahkan pedagang ikan di pasar-pasar itu lohh qiqiqi (sssttt secret), “aduh, di mana Dia yah?” blm sempat aku bersandar tiba-tiba aku di kagetkan dengan… wowww ternyata Dia bertengger tepat dibelakangku
“Bagaimana aku bisa menghargaimu lagi wahyu?, aku capek atas sikapmu ini, berkali-kali aku peringatkan untuk selesaikan dulu skripsimu itu, apa jawabmu? Lebih baik wisuda pada waktu yang tepat dari pada wisuda tepat pada waktunya, ok aku bisa mengerti dan yang membuat aku kesal adalah, tidak kah kamu menghargai waktumu? Buat dirimu sendiri? Aku sedih wahyu, dulu kita satu angkatan, dan kini aku menjadi dosen pembimbing skripsimu, apa kamu tidak malu hahh?”
“ok Dia, maaf, aku tau aku bodoh aku…”
“stop plis yah, andaikan kamu mau berubah, merubah kelalukan sok bossymu mungkin kamu tidak akan mendapat predikat MAPALA (mahasiswa paling lama!), dan setidaknya kamu bisa lulus untuk tahun ini. Aku selalu mendukungmu, apapun yang kamu lakukan, tolong hargai aku sebagai pacarmu dan satu hal lagi wahyu, aku muak dengan gaya hidupmu yang tidak karuan ini, aku tau kamu serba kecukupan, tapi cobalah kamu fikirkan lagi ke mana arah tujuan hidupmu” dengan lirihnya dia berbicara. dengan sorot mata yg gusar ia menatapku sekali lagi, “selesaikan skripsimu dan ubah gaya hidupmu yang selalu menggampangkan masalah dan mengandalkan uang!”
Aku hanya bisa mengangguk-angguk tanpa mengindahkan ancaman dia, karena aku tau, dia sangat mencintaiku. aku hanya tersenyum ketika dia meninggalkanku, “dasar bawel!” maklum, ini sudah menjadi pidato dia sehari-hari, terus terang bosann! Tapi apa boleh buat she is my girl my soul hehee.
Namaku wahyu pradana, aku anak orang yang lumayan kaya, hidupku biasa saja (menurutku) tapi menurut pacarku aku ini terlalu berlebihan dan hura-hura, beginilah pergaulanku, aku suka balapan, aku suka hangout, aku suka basket dan paling aku suka adalah pacarku ini, iya dia adalah Anindya Putri, sebejatnya aku, aku tidak pernah mau membuat dia menangis dan juga aku tidak mau mengenal drugs or apapun itu, tapi kalo alkohol he he heee aku pernah tapi tidak sering dan jangan sampai ketahuan pacarku ini bisa di kuliahkan aku dengan metode-metode pembelajaran dia, maklum dia ini lulusan terbaik fakultas ekonomi manajemen SDM, mampus aku kalo dia berkicau hahaha. FYI aku sangat mencintai dan menyayangi Dia melebihi apapun, dan aku akan melakukan apapun agar dia merasa nyaman bersamaku. Ini janjiku.
Setibanya aku dari rumah sakit itu, badanku menegang, selembar kertas ini tersenyum melihat raut wajah gelisahku. mengapa aku tidak menyadarinya dari dulu, mengapa aku seperti ini? mengapa secepat ini virus itu menyerangku?. Aku tidak mau lemah aku tidak mau sakit, dasar virus sialan (geramku kesal). waktuku? persetan dengan waktu…
Dengan kagetnya aku melihat jam tanganku, astagaaa! Aku lupa harus jemput dia di kampus.
Setibannya di kampus aku melihat dia berjalan bersama teman dosennya, agak culun tapi, temannya itu lumayan pintar, sepertinya sehhh, abis cupu dan jadul abiz penampilan alien itu qiqiqiqi. “Kamu telat lagi kan?” aku tersentak dari lamunanku ketika dia memukul helmku dengan tasnya, “heheheee” nyengir kuda, “maap, maap yahhhhh, ya uda kita makan siang saja, anacondaku udah ngamuk ini”, seru dia ketika aku sudah melarikan motor ninjaku. “hei mahasiswa pemalas, kapan kamu mau bimbingan lagi? Cetus dia judes lagi!, jangan mentang–mentang aku ini dosen pembimbingmu, kamu jadi males begini yah” dia mengeratkan pelukannya d pinggangku. “aku ga mau lulus dulu buat apa lulus cepet-cepat? Wisuda adalah pengangguran yang tertunda hehehee” jawabku, “dasar tukang ngeyelll timpalnya”
“ya tuhan apa yang harus aku sampaikan kepada dia? Aku teramat bingung untuk berterus terang, aku ga mau dia mengasiani aku, bukannya aku tidak mau melaksanakan janjiku, tapi ini yang terjadi padaku, sakit yang aku anggap itu hanya sebuah kecelakaan biasa, ternyata bisa memporak porandakan kehidupanku, apa yang aku dapat lakukan? Berterus terang atau…?” “hei kalau bawa motor dan sedang membonceng pacarmu jangan melamun dong, emang aku ini barang mati?” Celotehnya “maap tuan putri aku sedang membayangkan bagaimana kalau aku menceburkan kamu ke kali itu? Haha, adowww” cubitan yang lumayan sakitnya mendarat d pinggangku, aku hanya bisa meringis dan tertawa, pacarku ini ga bisa berenang, sttt secret.
“Bagaimana aku mau mengejar kelulusan, kalau konsekwensinya aku harus menikahi dia dan meninggalkan dia?” pilihan yang membuat logikaku mendadak mati.
1 Bulan kemudian
“Kapan kamu mau berubah yuu?, apa yang kurang dari aku? Apa aku kurang setia? Kenapa kamu menghilang 1 bulan? Ke mana aja kamu? Dan kenapa kamu cuti kuliah? Backpacker lagi? Ato mengunjungi pacar-pacar kamu? Atau kamu kalah taruhan?, kamu tau aku khawatir, aku sempat putus asa karena kamu ngilang begitu saja. I hate you! Basted!”
“Maafkan aku dia, aku ga maksud buat kamu kecewa, dan masalah kuliah aku ga perduli lagi” aku terduduk dihadapannya.
“What? Ga perduli lagi!? Apa janjimu dulu? 6 th yang lalu? Setelah sarjana kita akan menikah, tapi kamu belum lulus, jadi harus berapa lama lagi aku menunggu kamu?” jeritnya histeris “apa perlu aku mencari penggantimu? apa perlu itu aku lakukan? Answer me! losser!”
Aku mencoba untuk mendekatinya memeluknya, “aku ga bisa berbuat banyak dia, aku emang pengecut, dan aku ga berniat lagi melanjutkan janji itu” lirihku, “aku minta pengertian dari kamu dee” dengan gusarnya dia mendorongku hingga kepalaku terbentur dan sakit maha dahsyat itu menggerumutiku lagi, di sela-sela sakit itu aku sempat mendengar teriaknya “kamu memang tidak bisa di andalkan lagi wahyu, aku benci kamu” lalu ia pergi entah kemana, aku tak sanggup menggejarnya, sial! Kepala ini seperti mau pecah hingga aku ga bisa mengejar dia, aku memang tak pantas untukmu dia. sebentar lagi aku hanyalah seonggok daging yang akan mati.
3 Bulan berlalu
Tgl 10 Desember 2011
Oh ya dee, masih ingatkah kamu hari ini hari apa? Seenggaknya masih ingat kah kamu hari ini dan tanggal ini adalah ulang tahunku dan hari jadi kita yang ke 7? Mungkin kamu sudah melupakannya, aku bisa memakluminya, aku tidak pernah benar-benar melupakan ataupun membencimu.
Maafkan atas tingkah lakuku my dear, bukan maksudku membuat kamu kecewa dengan sikapku, aku sadar dulu aku tidak fokus dan selalu berhura-hura aku tidak bermaksud menunda kelulusanku, hanya saja waktu itu, ketika aku mulai serius untuk berubah, segalanya berubah dia, aku harus pergi terapi, aku juga tidak mengerti mengapa aku harus mengikuti terapi, dan aku tidak bisa menundanya, aku terpaksa pergi tidak pamit, dan aku menyesalinya dia, aku sakit dia, kamu inget waktu kita SMA? Waktu itu aku bertanding basket, dan aku mengalami kecelakaan dalam pertandingan sehingga aku pingsan, aku tak sadarkan diri di ruang ICU, ternyata ada gumpalan cairan yang berupa darah beku di otak kananku, dari itu masalahnya, aku tidak sadar kalau ternyata aku mengalami gangguan terhadap saraf otakku, virus sudah menyerang otakku, aku tidak tau harus menyampaikan ini kepadamu, aku tidak mau kamu bersedih dia, buat apa aku lulus? Untuk mengajakmu menikah bukan? Lalu buat apa aku mengajakmu menikah kalau aku sudah tau bakal meninggalkanmu? Dari dasar itu pula aku tidak mau lulus aku tidak mau wisuda, aku meninggalkanmu 1 bulan dan aku tidak mampu untuk mengejarmu waktu kita bertengkar hebat, remember? maaf atas sikapku kepadamu. i still love u dia, yesterday, now and forever
Aku lipat surat itu dan kumasukkan kedalam sebuah kotak ulang tahun untuk sang kekasih. Adikku melihatku penuh kesedihan, “yu aku ga mau lihat kamu kayak gini”, kamu harus kuat yahh, “aku mau kamu sendiri yang memberikan hadiah itu untuk kak anindya” ujarnya, “aku juga berharap itu, andai kata aku sudah tidak sanggup, maukah kamu membantuku lit?” dengan berlinang air mata alit menganggukkan kepalanya, “tapi aku yakin kakak akan kuat untuk menanti ulang tahunnya tiba!” aku bukan pesimis lit, tapi ini adalah kenyataan aku mencoba bersikap apa adanya saja, aku sendiri tidak yakin untuk hari esok, apakah aku masih bisa bernafas atau tidak, aku hanya berpikir rasional, jangan khawatir tentangku lit, tapi kakkk, ya sudahlah sebaiknya kakak istirahat dulu” adikku berlalu dengan membawa kotak itu
10 Bulan kemudian
8 oktober sehari sebelum hari ulang tahunnya, dan acara pertunangannya, aku bersiap berusaha berpenampilan gagah, hahh? Gagah? Masih layakkah aku di sebut gagah? Aku hanya seonggok daging renta yang bentar lagi hilang. Mati, aku termenung aku ingin menghadiri acara ulang tahun dan acara pertunangannya, aku ingin tau siapa pacar barunya (ini aku tau ketika adekku berpapasan dengan dia seminggu yang lalu, dan dia mengenalkan Kendra sebagai pacarnya yang baru). aku putus asa, aku tak sanggup andaikan dia mengenalkan pacarnya yang baru. Sudah aku putuskan besok aku akan menghadirinya, terngiang lagi lagu “tak akan terganti” by marcel yang iya nyanyikan untukku, masihkan berlaku lagu itu untukku? Atau mungkin emang benar, aku yang bakal menjadi pemeran utama dalam klip itu? Aku pasrah, aku sudah apatis, analogi sudah membeku membentuk sudut pandang alpa 0 derajat, dan aku harus menyadarinya. Intuinsiku menyatakan aku sangat mencintai dia, mencintai dia dengan atau tanpa dia pinta, hingga saat ini di saat aku harus bersahabat dengan kematianku aku masih sangat mencintainya.
3.00am, kembali aku dilarikan kerumah sakit bhakti rahayu, aku mengalami sakit kepala yang sangat serius, lagi lagi aku harus masuk ICU yang sudah sangat akrab denganku, pikiranku tertuju pada tanggal tanggal 9 oktober, aku menangis dalam komaku, aku tidak bisa gagah di hadapan anindya, dia memang benar, aku adalah losser im fucking basted!, lalu aku bisa apa di dalam komaku? Hanya terpekur lirih, sedangkan di luar sana keluargaku sedang bersimpuh menangisi aku, adikku alit membawakan aku satu kotak spesial yang berisikan coklat Cadbury, satu tangkai mawar merah dan satu amplop yang aku tau itu adalah surat yang aku tulis beberapa bulan yang lalu. Entah apa yang dia lakukan dengan ke tiga benda tersebut, apakah ia ingin berniat pergi ke acara anindya?, aku ingin ikut bersama alit, entah mengapa tubuh ini mati rasa, mati gerak, sudah matikah aku? aku koma, yahhh koma mungkin sebentar lagi aku… ya Tuhan ijinkan aku bertemu dengan dia untuk yang terakhir kalinya, aku rindu dengan sentuhannya, dan aku ingin meminta maaf.
Pada pukul 11 malam, aku merasakan sentuhan yang sudah lama aku nanti, yahhh anindya datang, dia menyentuhku, aku merasakannya, air mataku memburu untuk membanjiri pipiku, entah kekuatan apa yang dia punya, ia mampu membangunkan aku dari komaku, aku menatapnya, dalam rabun mataku, aku masih dapat melihat wajahnya, aku tau dia nampak sedihhhh, entah itu karena kasihan atau karena dia masih menyimpan cinta untukku.
Mengapa kamu tidak menceritakan ini semua wahyu?” lirihnya, aku fikir kamu sudah tidak mencintaiku lagi, entah berapa banyak pradugaku ke kamu, aku sungguh menyesal, aku sudah membaca suratmu aku sungguh menyesal, maafkan aku yang meninggalkanmu ketika kamu sakit seperti ini, sambil meraung raung entah mengapa para dokter mendatangiku, menyingkirkan dia dari genggamanku? Dia terus menagis memandangi wajahku, matakupun tak luput dari wajahnya, dengan lirih yang tak terdengar lagi aku mengucapkan im sorry I love you. maaf aku harus pergi dia.
aku tidak pernah menyalahkanmu yu, aku mencintaimu dengan atau tanpa kamu pinta. Aku tidak pernah menyesali mencintaimu dan saat ini aku pun masih menyimpan itu wahyu, dia bersimpuh berlinangan air mata…
Ikhlas ya dia…
cinta itu tidak pernah melantunkan penyesalan
dan cinta itu adalah KEIKHLASAN

Cinta dan sahabat


Pagi ini seperti biasa aku harus menuntut kewajibanku sebagai seorang siswa. Sebenarnya hari ini aku malas sekali untuk sekolah, apalagi harus bertemu dengan Farel setelah kejadian semalam aku jadi berpikir untuk menjauhi Farel. Sebelum semuanya terlambat. Semalam aku dan Farel chat seperti biasa. Awalnya dia sharing tentang masalah nilainya yang akhir-akhir ini turun. Namun setelah itu dia mengalihkan topik pembicaraan. Dia mulai bercerita tentang masalah hubungannya dengan Nisa yang akhir-akhir ini memang kurang harmonis. Dan dia juga bilang bahwa dia sudah gak mau lagi berhubungan sama Nisa.
“Yas, aku pengen putus sama Nisa”
“Loh kenapa?”
“Aku suka sama kamu Yas”
“Hah? Jangan bercanda”
“Aku serius Yas”
Setelah itu aku mengakhiri chatku dengan Farel. Pikiranku menjadi kacau. Apa benar dia suka sama aku?
Kenapa harus aku sih? Aku terus bertanya dalam hati. Aku mengingat–ngingat kejadianku dengan Farel. Memang sudah 1 bulan ini sikapnya menjadi berubah. Dia menjadi lebih perhatian sama aku. Seperti ketika aku sakit dia yang menjagaku di ruang UKS sampai-sampai dia tak mengikuti pelajaran. Lalu ketika aku benar-benar butuh laptop untuk mengerjakan tugasku karena pada saat itu laptopku rusak, dia pada saat itu yang meminjamkannya meskipun sebenarnya hari itu hujan sedang deras-derasnya. Dan esok harinya dia tak sekolah karena sakit. Mengingat kejadian-kejadian itu semakin memperkuat perkataan Farel. Lalu bagaimana dengan Nisa?
“Yasmiiiiinnn” teriak seseorang yang berjilbab itu. Aku menoleh ke arahnya dan menghentikan langkahku.
“Iya Nis ada apa?” tanyaku padanya yang nafasnya terdengar ngos-ngosan itu.
“Sini, aku mau cerita” katanya sambil menarik tanganku dan membawaku ke tempat yang agak sepi. Setelah sampai kami duduk di bawah pohon rindang.
“Yasmin” dia memulai pembicaraan. Dengan mimik muka yang terlihat sedih.
“Farel Yas, dia ahh..” kata-katanya terpotong bersamaan dengan air mata yang mulai mengalir di pelupuk matanya. ‘ini ada apa? Apa Farel udah ngasih tau semuanya? Apa Farel udah mutusin hubungannya sama Nisa?’ beribu pertanyaan kini memburu otak dan hatiku.
“Iya, Farel kenapa Nis” tanyaku penuh hati-hati. Aku tak mau menyinggung perasaanya yang tengah sedih.
“Gak tau Yas, dia berubah banget sama aku. Akhir akhir ini dia cuek banget sama aku. Kayaknya dia punya yang baru deh Yas, aaah” Tangisnya kembali pecah. Aku tercengang. Dan bagai peluru yang menyelup masuk kehatiku, aku merasa bersalah pada Nisa.
“Hush, kamu jangan ngomong gitu Nis, siapa tau aja dia lagi sibuk” Aku coba menenangkannya.
“Tapi sakit Yas, didiemin terus. Aku tuh kaya obat nyamuk tau gak sama dia, selalu gak di anggap. Kalo aku ngomong sama dia diacuhin. Sekalinya ngejawab Cuma “Oh” “iya gitu” “wah” siapa yang engga sakit coba Yas”. Ini jauh berbanding terbalik ketika Farel sedang berbicara padaku dan aku mengacuhkannya. Pikiranku menerawang jauh. Sesaat aku terdiam.
“Yas, mau bantu gak? Kamu kan sahabat aku sama dia, boleh bantuin gak bilangin ke dia kenapa dia ngejauhin aku. Plislah kamu kan baik”.
Melihat raut wajahnya yang begitu sedih aku pun tak menolaknya. Dan mengiyakannya. Dia tampak senang, namun tak begitu denganku. Setelah perbincangan itu, kami kembali ke kelas masing masing. Sembari menyusuri koridor sekolah, aku memikirkan bagaimana caranya untuk mengungkapkan semua ini pada Farel, sementara saat ini aku sedang mencoba menjauh dari Farel. Aku tak mau hubunganku dengan Farel menjadi semakin dekat, dan Farel benar-benar memutuskan hubungannya dengan Nisa.
Sesampainya di kelas Farel terlihat murung sambil memainkan ponselnya. Dari sudut mataku ini, aku melihat dia tak begitu semangat seperti biasanya. Tak ada binar keceriaan lagi di matanya. Apa aku penyebabnya? Entalah. Aku menghela nafas sebentar dan merilekskan pikiranku yang mulai benar-benar bingung. Aku coba menoleh ke arahnya namun sial. Ternyata dia juga sedang memperhatikanku. Mata kita bertemu untuk sepersekian detik. Aku coba memalingkan wajahku darinya dan coba mengatur detak jantungku yang kian tak menentu.
Bel pulang pun berbunyi. Aku membereskan barang-barangku dan bergegas untuk pulang. Rasanya seharian di kelas tanpa saling tegur sapa dan diam-diaman itu, membuatku muak untuk terus berlama-lama berada di kelas ini. Aku pun mulai melangkahkankakiku. Namun, pada langkah ketiga. “Yasmin” bersamaan dengan itu aku merasa tangan ini seperti ada yang menggenggam dan aku yakin itu Farel. Dengan tanpa menoleh ke arahnya aku melepaskan genggaman tangan itu dengan kasar.
“Apa?” kataku singkat.
“Aku mau ngomong sama kamu” pintanya.
“Ngomong apa? Via sms bisa kan? Maaf kali ini aku gak bisa” ucapku sambil berlalu meninggalkannya.
“Yasmin, aku cinta sama kamu”. Deg langkahku terhenti. Jantungku kembali terpacu. Untuk sesaat aku terdiam. Suara riuhan anak anak sekelas mulai terdengar seperti backsound di film film.
“Aku cinta sama kamu Yasmin” Dia memperjelas perkataan tadi. Suara riuhan pun semakin terdengar. Mukaku memerah seperti udang yang baru saja di rebus.
“Terima, terima, terima” kata-kata itu yang membuat hatiku menjadi bimbang. Aku tak menyangka Farel akan melakukan ini, karena yang aku tahu untuk masalah ini dia begitu tertutup. Bahkan pada saat Farel dan Nisa jadian, dia backstreet selama satu minggu sebelum akhirnya semua orang mengetahuinya. Aku menoleh malas ke arahnya. Ada rasa senang juga kesal. Aku kembali melanjutkan langkahku dan tak memperdulikannya dan teman teman sekelasku. Namun saat aku mendekati pintu. Aku lihat sosok Nisa yang tengah mengusap air matanya.
“Nisa” aku coba menghampirinya.
“Kamu jahat yas” katanya sembari pergi meninggalkanku.
“Nisa tungguuuu” aku coba mengejarnya namun, hasilnya nihil dia berlari begitu cepat meskipun menggunakan jilbab. Ah sial. Ini yang aku takutin. Nisa ngejauhin aku dan gak percaya lagi sama aku gerutuku. Dengan langkah gontai, aku melanjutkan langkahku. Dan pada saat aku sampai di parkiran. Tiba- tiba motor Farel berhenti di depanku. Cepat sekali dia padahal tadi masih di kelas.
“Aku anterin yah, Yas” tawarnya
“Gak” kataku dengan nada malas dan meninggalkannya.
“Kamu kenapa sih Yas?” dia coba mengejarku. Aku hanya diam.
“Yas, kenapa?” aku masih tetap diam.
“Yas, apa gara gara tadi? Apa salah kalau aku punya perasaan yang lebih sama Kamu?” Pertanyaan ini yang membuat langkahku terhenti.
“Salah Besar” jawabku dengan nada tinggi.
“Salahnya apa Yas? Bukankah ini hak setiap orang untuk punya perasaan ini?”.
“Banyaaak” dengan geram aku berlari dan meninggalkannya sendiri.
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamarku. Aku merebahkan badanku yang amat lelah ini. Hari ini aku benar-benar seperti pecundang. Aku benci dengan sikapku yang satu ini. Aku meraih diaryku yang terletak di atas meja belajar. Aku mulai meluapkan semua perasaan yang aku alami hari ini.
‘Aku juga ngerti kok sama perasaan kamu Rel, aku juga sadar kalau aku juga punya rasa yang sama kaya kamu. Tapi, kamu harus berpikir ulang Rel, ada seseorang yang masih jadi milik kamu. Seseorang yang sayang banget sama kamu. Rel, aku cuma gak mau jadi perusak dalam hubungan kalian. Aku juga gak mau nyakitin perasaan Nisa yang udah bener-bener sayang sama kamu. Kamu tau kan Rel, aku sama dia tuh deket banget. Bisa di bilang kita sahabatan. Aku cuma gak mau dia ngejauhin aku dan persahabatan ini jadi hancur. Aku tau Rel, kalo ini memang berat. Memilih antara cinta dan sahabat. Tapi, aku tetep sayang sama kamu Rel, meski gak ada kata ‘Pacaran’ dalam hubungan kita. Aku harap kamu ngerti Rel.’
Ku tutup sahabat bisuku itu. Tanpa terasa bulir bulir air mata jatuh di pelupuk mataku dan membajiri pipiku. Setetes demi setetes air itu membasahi cover sahabatku itu. Aku menangis? Menangisi Farel dan menyesali perasaan ini. Perasaan yang tak ku duga datangnya. Dari sebuah chat yang biasa saja, menjadi chat yang luar biasa bagiku. Entah kenapa, semakin kita sering chat aku merasa ada perasaan aneh yang mengganjal di hatiku. Perasaan yang ku elak datangnya. Ah Farel… aku coba menghapus air mata ini dan melirik handphone yang sudah berdering sedari tadi. Banjir dengan misscall dan sms dari Farel.
“yas, lagi apa?” “yas, kenapa ga di bales?” “yas, marah?” “Yas, angkat telponnya” mungkin itulah segelintir pesan yang Farel kirimkan. Sebenarnya hati ini ingin sekali membalasnya mengatakan “aku lagi dilema” namun tidak dengan jariku. Rasanya jariku enggan untuk mengetik satu kata pun. Aku pun meletakannya kembali dan mengabaikan semua pesan darinya. Hingga akhirnya aku terlelap.
Cahaya mentari mulai menyelinap di balik celah-celah gordengku. Aku pun terbangun. Dan meraih ponselku. Ini memang kebiasaanku setiap bangun tidur pasti barang mungil ini yang ku cari. Dan saat aku membukanya.
Banyak sms dari Farel. “Yas, kenapa ga di bales terus?” “Yassmiiinn” “Masih marah gara gara yang tadi”. Ah aku bingung untuk membalas pesannya yang mana dulu. Aku putuskan untuk tak membalasnya. Toh, itu sms yang tadi malam. Namun tiba tiba, ada satu pesan masuk. Dari Nisa, dengan penuh rasa penasaran aku pun membukanya.
Yas, mungkin kamu kanget kenapa aku sms sepagi ini. Aku cuma mau ngucapin makasih yang sebesar besarnya karena selama ini kamu selalu menjadi tempat curhat bagi aku, mungkin juga Farel. Tapi, Yas, aku gak nyangka. Kalo kamu itu nusuk dari belakang. Kamu cinta Farel juga kan? Jujur aja Yas, semua orang juga udah tau. Oke. Bukan maksud aku buat ngancurin mood kamu pagi ini. Tapi, satu hal yang aku sesali dari kamu Yas, kamu itu gak jujur.
Deg, seketika keringat dingin membasahi tubuhku. Rasa bersalah kini menghantui perasaanku. Apa aku harus jujur pada Nisa jika aku memang mencintai Farel? Atau aku tetap berpura pura dalam perasaan yang menyesakkan dada ini? Ah entalah. Farel, ya Farel tokoh utama dari sandiwara ini. Dengan cepat aku mengetik pesan singkat untuknya.
Rel, kita ketemu di taman kompleks sekarang, ada hal penting.
Tanpa menunggu balasan darinya aku pun melesat cepat menuju taman kompleks dengan sepeda motorku ini. Akhirnya aku sampai di taman, setelah menunggu beberapa detik sosok yang ku tunggu-tunggu pun datang.
“Udah lama nunggu, maaf yah” Ucapnya dengan senyum tipis. Lalu dia duduk disampingku.
“Ah, udahlah. Kamu putus sama Nisa kan Rel?” tanpa berpikir panjang aku pun melontarkan kata-kata itu. Dia terlihat kanget.
“Kok diam?”Lanjutku.
“Iya, memangnya salah Yas?” dia balik bertanya.
“Salah besar Rel” kataku dengan nada tinggi.
“Salah? Salah kenapa Yas, bukannya itu hak semua orang?” tanyanya dengan suara yang agak tinggi.
“Aku tahu itu hak semua orang. Tapi kamu tahu kan Rel, kalau aku sama Nisa itu sahabatan. Harusnya kamu ngerti Rel, kenapa aku bisa semarah ini sama kamu. Aku cuma gak mau nyakitin hati Nisa, dia terlalu baik untuk disakitin. Rel, dia tuh bener-bener sayang sama kamu. Kamu tahu Rel, setiap malem dia sms aku. Dia selalu nangis, gara gara siapa Rel? Gara-gara kamu” Jelasku.
Farel hanya diam.
“Sekarang apa yang kamu mau Yas?” tanyanya dengan pasrah.
“Aku mau kamu balikan lagi sama Nisa, dan bilang kalau kejadian tempo hari itu cuma pura-pura”
“Itu susah Yas dan gak mungkin”
“Susah kenapa?” tanyaku dengan sinis
“Aku gak mau ngebohongin Nisa, Yas. Kamu emang bener kalau dia itu bener-bener baik. Tapi kalau aku nurutin kata kamu dengan pura-pura masih cinta sama Nisa bukannya itu malah bikin Nisa bener-bener sakit. Aku gak mau jadi pecundang Yas” jelasnya. Aku jadi makin bingung. Kata-kata Farel memang ada benarnya.
“Aku tahu kalian sahabatan. Aku juga tahu kalau Nisa sering cerita masalah aku sama dia ke kamu. Aku juga tahu Yas, sebenernya kamu sakit”
“Sakit? Aku gak sakit Rel” ucapku memotong pembicaraannya.
“Lalu apa artinya tulisan itu Yas”
“Tulisan? Tulisan apa Rel?” tanyaku setengah bingung.
“Tulisan di diary kamu Yas. Aku tahu semuanya dari situ.” Aku pun memandangnya dengan sinis. Mata Farel begitu sendu. Sebenarnya aku merasa kasian pada farel tapi rasa kesal ini jauh lebih besar daripada rasa kasian.
“Kamu baca diary aku?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Maaf Yas, aku gak sengaja. Waktu itu…”
Aku mulai berlari sebelum Farel menyelesaikan kalimatnya. Aku tak sanggup mendengar ucapan Farel lagi. Dan aku menyesali kecerobohanku meletakkan benda yang menjadi privasiku ini di sembarang tempat. Kenapa aku bisa seceroboh ini. Harusnya aku tak meletakkannya di sembarang tempat. Dan kenapa Farel harus membacanya. Aah. Aku terus memaki diriku sendiri atas kecerobohan ini.
Hari ini aku tak bersemangat untuk sekolah. Pikiranku masih tak mampu untuk berpikir jernih. Dengan langkah gontai aku menuju ke kantin. Aku tak mau ke kelas dan melihat muka Farel. Setibanya di kantin aku duduk di deretan bangku ke tiga dan mulai menikmati secangkir susu hangat yang mungkin dapat membuat moodku membaik. Namun, pandanganku tertuju pada lelaki berambut cepak berhidung mancung itu. Ya, Farel. Sial kenapa dia ada di sini gumamku. Dengan cepat aku pun mulai meninggalkan kantin dan berjalan menuju kelas. Ketika aku sedang berjalan menuju kelas aku lihat Nisa sedang duduk sendiri di depan kelasnya dengan mata yang kosong. Aku coba menghampirinya. Tiba-tiba Nisa menoleh ke arahku aku pun mengembangkan senyum padanya. Namun sayang, dia segera mengalihkan pandangannya dan masuk ke kelasnya. Dengan cepat senyumku pun memudar. Aku kembali melanjutkan langkahku. Sesampainya di kelas suasana begitu gaduh.
“Eh, ada yang baru di tembak nih” ujar Deva ketika aku mulai duduk di bangkuku.
“Iya nih. Di terima gak yah? Haha” tambah Rizki di selingi tertawa. Semua anak kelas pun melirik ke arahku.
“Apa-apaan sih kalian. Kemarin itu cuma pura-pura” ucapku dengan nada tinggi. Aku tak kuat lagi menahan rasa kesal ini. Mereka pun seketika diam. Dan pada saat yang bersamaan Farel sudah memasuki kelas. Aku yang menyadari keberadaannya ini kembali duduk.
“Beneran Rel yang hari sabtu itu cuma pura-pura?” Tanya Ryan teman sebangku Farel. Aku dengan seksama mempertajam pendengaranku agar dapat mendengar percakapan mereka berdua.
“Engga. Kemarin itu serius”. Deg. Jawaban Farel benar-benar membuat aku semakin kesal. Kenapa dia harus bilang kalau kejadian hari sabtu itu serius? Batinku.
Setelah kejadian itu hubungan aku, Farel dan Nisa semakin memburuk. Kami tak pernah saling sapa lagi seperti dulu. Setiap aku bertemu dengan Nisa dia selalu melempar pandangan yang penuh kebencian. Begitu pun dengan Farel, aku tak mau melihat mukanya meskipun kami sekelas. Sebenarnya aku ingin semuanya seperti dulu. Tapi rasanya tak mungkin. Meskipun aku telah meminta maaf pada Nisa beberapa kali, namun dia tak meresponnya. Akupun semakin bingung harus menjelaskannya bagaimana.
Hari ini aku merasa kepalaku begitu pusing, dan aku memutuskan untuk pergi ke ruang UKS karena tak mungkin aku mengikuti pelajaran dengan keadaan seperti ini. Ketika tiba di UKS aku melihat Nisa sedang berbaring di kasur dengan selimut yang membalut tubuhnya. Aku pun menghampirinya.
“Kamu kenapa Nis?” tanyaku. Nisa menoleh lalu membuang mukanya di balik selimut itu. Aku tahu pasti Nisa merasa kesal dengan kehadiranku ini. Aku pun membiarkannya. Karena jika dipikirkan kepalaku malah semakin pusing. Akhirnya akupun membaringkan tubuhku di samping kasur yang di tempati Nisa. Dan tak lama aku pun terlelap. Hampir 1 jam aku tertidur dan ketika bangun aku mendengar ada suara tangisan di sampingku. Aku yakin itu pasti Nisa.
“Kamu kenapa nangis Nis?”. dia menoleh ke arahku dan langsung memelukku. Tangisnya kembali pecah. Aku pun menjadi semakin heran.
“Maafin aku Yas” ucapnya dengan terisak.
“Maaf untuk apa?” tanyaku heran sembari melepaskan pelukannya itu.
“Aku harusnya gak ngejauhin kamu Yas. Dan aku juga gak berhak buat benci sama kamu. Kamu itu benar-benar baik Yas. Dan tak seharusnya persahabatan ini rusak gara-gara masalah ini. Aku udah tahu semuanya dan Farel yang menceritakannya.” Jelasnya dengan sesekali menyusap air matanya.
“Maksud kamu?”
“Iya Yas, aku tahu Farel sering cerita tentang masalahnya dengan ke kamu. Begitupun sebaliknya. Dan Farel juga cerita kalau dia udah gak mau ngelanjutin hubungannya sama aku. Dan dia udah mulai suka sama kamu sejak 1 bulan yang lalu. Sebenarnya aku sangat marah ketika Farel mengucapkan hal itu, tapi aku berpikir ulang, tak seharusnya aku menghalangi dan tetap memaksa farel untuk tetap jadi pacar aku sementara dihatinya sudah tak ada namaku lagi. Dan sekarang aku mulai sadar Yas, aku harus merelakan Farel buat kamu”
Aku pun terdiam mendengarkan penjelasannya itu. Tanpa terasa aku menangis, aku tak menyangka jika Nisa akan berbaik hati seperti ini merelakan cintanya untuk sahabatnya.
“Kamu kenapa nangis Yasmin?” kini dia balik bertanya.
“Aku gak nyangka kamu bakalan sebaik dan setegar ini Nis” Nisa hanya tersenyum.
“Oh iya ada yang nungguin kamu bangun tuh dari tadi?” ujarnya tiba-tiba.
“Siapa?” tanyaku heran. Nisa menunjukan jari ke arah pintu ruang UKS. Mataku pun tertuju pada lelaki berpostur tinggi itu. Dia Farel. Farel menoleh ke arahku dengan senyum yang mengembang aku pun membalasnya.
Setelah kejadian itu aku dan Farel pun resmi menjadi sepasang kekasih. Hubungan kami memang tak begitu romantis, tapi aku nyaman dengannya. Nisa juga sepertinya sudah move on dari Farel, karena saat ini dia sedang suka pada Eza, teman dekatnya semasa kecil.

masih ada


Tik… tik… tik… dentuman detik waktu membawaku berlari begitu cepat. Memaksaku untuk cepat melupakan masa lalu. Ya, masa lalu. Masa lalu yang sulit terdefinisikan. Bahagiakah? Senangkah? Sedihkah? Pilukah? Aku tak tahu apa yang aku rasakan.
Yang jelas, ketika aku mengingatnya aku seolah mati rasa, tak dapat merasakan apapun. Bagiku semua sama, bahagia, sedih, suka dan duka hanyalah sebuah nama. Sama-sama tak lagi indah, sama-sama tak menyakitkan dan tak bermakna.
Pagi ini hari pertama kelas 2 SMA, waktu mempertemukan aku dengan seseorang. Sesosok roh yang sekejap merasuki hambar hatiku.
“Tar..” ku dengar seseorang membangunkanku dari lamunanku.
Aku diam, mencoba menerawang wajahnya, ternyata ia si Yoga teman sekelasku. Ia tersenyum lalu menegup bahuku dan duduk disampingku. “Kenapa?” tanyanya.
Akupun berkata, “Ng, nggak, kamu.”
“Oh, ini (menunjuk kaca matanya)? Kenapa aneh ya?” potongnya.
Sejujurnya, Yoga mirip dengan Riko, seseorang dalam masa laluku. Semua yang ada dalam diri Yoga ku lihat sama dengan Riko. Sejak kelas 1 SMA, sejak aku kenal Yoga sejak saat itu pula sosok Riko seolah kembali hadir dalam hidupku dengan nama Yoga. Jujur, walau tak sepenuhnya nama Riko dapat ku hapus bersih dalam hati tapi kehadiran Yoga cukup membuatku mampu melupakan melupakan nama Riko.
Wajahnya sama persis, physicly, senyumnya, tapi kenapa sekarang dia harus pake kaca mata yang bikin dia mirip banget sama Riko. Aku jadi rindu dengan kehadiran Riko. Sepertinya kehadiran Yoga kali ini yang membuatku merindukan Riko dan malah membuatku ingin kembali kepada Riko.
“Hai!!! Tari, what happen?” sapa Yoga lagi. Tanpa menunggu jawabanku dia menarikku untuk masuk kelas, ternyata bel masuk sudah berdering tapi aku tak mendengar.
Sesampainya di kelas, Yoga malah duduk disampingku. Ingin rasanya aku meminta Yoga untuk melepas kaca matanya tapi bagaimana mungkin aku dapat menyuruh orang terpopuler di sekolah hanya untuk kepentinganku pribadi.
Aku mencoba mengunci hati, melupakan semua tentang Yoga dan Riko. Ku lihat cewek-cewek kanan kiriku melipat muka, sepertinya mereka cemburu karena Yoga duduk disampingku. Siapa sih yang nggak suka dengan cowok seperti Yoga. Cakep, pintar, baik, pokoknya perfectionist. Aku pun juga demikian, tapi kayaknya mimpi deh dia bisa suka sama aku. Berapa ribu cewek yang mesti aku kalahin. Ah.. menghayal.
Bel istirahat berdering, aku tak bergegas keluar kelas. Aku masih ingin memandangi wajah Yoga yang sedang tertidur pulas dari tadi. Sayangnya, tiba-tiba Pak Itok memanggil Yoga dan dengan terpaksa aku membangunkannya. Ketika dia bangun dan bergegas meninggalkan kelas aku seolah tak ingin pisah, rasanya aku bakal kangen dia. Sepertinya berlebihan, tapi ini kenyataan.
Sepertinya kebersamaan di hari pertama kelas 2 SMA Yoga telah berhasil mewarnai kanvasku yang sudah lama kusam. Entah kenapa dalam hatiku, ingin rasanya Yoga mewarnai kanvasku untuk selamanya.
Hari-hariku benar berwarna dengan kehadiran Yoga. Nggak terasa 1 bulanpun berlalu, berarti 1 bulan pula kebersamaanku dengan Yoga. Ternyata dalam waktu 1 bulan itu telah banyak hal yang sudah kita ceritakan terkecuali ceritaku tentang kemiripannya dengan Riko. Yoga orang yang asik, baik, perhatian, pendengar setia dan saran-sarannya benar jitu. Aku ingin cepat menghapus Riko agar tak terus menjadi luka. Suatu malam aku bertekad untuk menceritakannya namun sebelum aku ingin bercerita sebuah pesan singkat di handphoneku, dia mengirimkan pesan untukku.
Isinya seperti ini: Tari, maaf ya tadi pagi aku lupa pamit. 1 bulan kedepan aku karantina di Surabaya pelatihan Olimp robotic. Aku berangkat malam ini jam 11. Kamu baik-baik ya di kelas! Oya, jangan hubungi aku soalnya di sana HP di nonaktifkan.
Pesannya membuat senyumku keruh. Akupun membalasnya: Ah Yoga, ya udah kamu juga baik-baik ya di Surabaya! Aku bakal kehilangan kamu banget soalnya kalo ada soal-soal yang aku nggak tahu aku nggak bisa tanya ma kamu donk?
Malam itu waktu menunjuk jam 10, biasanya aku sudah tertidur pulas tapi kali ini tidak. Aku mencoba berkali-kali mengatupkan mata tapi nihil. Akhirnya, aku menghubungi Yoga tapi HPnya mati. Nggak tahu rasanya aku pengen nangis. Aku nggak mau jauh dari Yoga. Tiba-tiba ada pesan: Tari, suatu saat nanti pasti datang. Tunggu aku! Yoga.
Sebenarnya isi pesan Yoga membuatku penasaran, namun rupanya pesan itu mampu membuatku tenang. Dalam pikirku, apapun yang Yoga katakan, yang penting dia mengirimkan pesan ini untukku yang artinya dia mengerti tentang perasaanku.
Esoknya, aku merasakan hari-hari hambar tanpa Yoga. 1 hari saja sepertinya aku tak mampu tersenyum tanpa kehadiran Yoga. Tiap kali memandangi bangkunya aku merindukannya, hari-hari tanpa Yoga nggak asik.
Ketika aku mencoba berbaring dibangkunya aku lihat di kolong mejanya ada sebuah kotak. Aku ragu untuk menyentuh kotak itu. Rasa penasaranku membuatku mencoba mengambil kotak itu namun saat aku mencoba meraih kotak itu Pak Itok memanggilku beliau memberiku telfon dari Yoga.
“Hallo?” suara dari telfon itu.
“Ya, hallo?” Jawabku.
“Ini Tari? Tar, ini Yoga.” Suara dari telfon itu.
“Ya, Yo ni aku Tari. Kamu baik di situ? Ada apa ya kok telfon?” Jawabku.
Rupanya Yoga tak menjawab, akhirnya aku lanjut bertanya, “Yo, katanya HP di nonaktifkan? Tapi kamu kok? Bohong ya? Loh, karantinanya udah tah? Apa lagi istirahat? Hallo? Yoga? Hallo?”
“Ehm, ya maaf. Tari, baik-baik ya? Tunggu aku! Udah dulu tentornya datang nih. Assalamu’alaikum,” jawab Yoga dan dia menutup telfonnya.
“Wassalamu’alaikum,” jawabku.
Sejak saat itu aku tak pernah tahu kabar Yoga lagi, dia tak pernah menghubungi aku lagi begitupun aku. Mau tak mau aku harus jalani hari-hari tanpa Yoga, lagian siapa aku. Hari-hari tanpa Yoga tak beda jauh dengan hari-hari yang aku jalani setelah putus dari Riko, semua serba nggak asik.
Saking kangennya sama Yoga sampe aku sering ngehayalin dia dan nggak jarang ke bawa mimpi. Aku sering berhayal dia mengatakan cinta dan di setiap hayalanku jawabanku berbeda-beda begitupun dengan tingkahku, salting. Hal itu sering pula bikin aku tertawa sendiri. Aneh…!!!
Meski kangen aku berusaha tegar dan berusaha untuk tak memberi tahu teman-teman yang lain. Aku tak mau mengulang hidup seperti saat-saat setelah putus dari Riko. Aku masih penasaran dengan pesan Yoga untuk menunggunya. Ternyata 1 bulan menunggu Yoga benar menyiksa. Aku terus bertahan, berusaha berdiri tegak dan bersabar menunggu Yoga.
Suatu hari aku jumpai Riko di depan sekolahku. Aku kangen banget sama dia. Dalam pikirku, untuk apa dia ke sini? Mungkinkah dia ingin bertemu denganku? Rupanya dia menjemput seorang cewek, yang nggak lain teman sekelasku, Revi. Akupun bergegas menunjukkan diri kepada mereka.
“Eh, Revi.” Sapaku.
“Tari?” Respon Revi bingung.
Riko memalingkan muka, mencoba mengalihkan pandanganku. Mungkin dia pikir aku tak tahu bahwa itu diriya. Riko bergegas pergi bersama Revi, dia mencoba menutupi wajahnya tapi sayangnya aku tahu siapa dirinya.
“Ehm…” Seruku.
“Ada apa ya, Tar?” Tanya Revi.
“Emm, dia siapa?” Tanyaku.
Revi hanya diam dan seolah memberi isyarat kepada Riko tentang sesuatu. Begitu pula Riko, dia diam dan sibuk memalingkan muka. Akupun memilih untuk diam juga dan seolah menahan mereka. Setiap mereka akan melangkah pergi aku menegurnya yang akhirnya Riko membuka helmnya dan membentakku.
“Mau kamu apa sih? Nggak usah seperti ini dong! Ternyata kamu nggak berubah ya.” Bentaknya.
“Maksud kamu?” Tanyaku sok polos, sejujurnya aku mangkel.
“Biarin kita pergi dari sini! Kamu nggak perlu bikin aku tertekan, apa lagi menekan Revi!” Bentaknya lagi.
“Oh..” Jawabku.
“Kamu itu masa lalu. Masa lalu yang nggak banget untuk di kenang, terlalu menyakitkan. Kamu kan yang mau hal ini? Kamu toh yang memulai ini? Nggak nyangka, ternyata kamu nggak sepolos yang aku kira, naif. Harusnya kamu bisa lepasin aku dan relakan aku dengan Revi, toh kamu sendirikan yang bilang kalau kamu nggak cinta sama aku. Terus pengorbananku untuk meraih cinta kamu itu bohong, sia-sia. Kamu cuma manfaatin aku, cuma pengen hartaku aja, cuma pengen numpang beken aja. Jahat ya..!!” Bentaknya.
Aku hanya bisa menangis dan membiarkan setiap pasang mata menontonku.
“Ah.. udah ah!!” Seru Riko melangkah pergi.
“Berarti kamu buta.” Kataku tiba-tiba, Riko menghentikan langkahnya.
“Harusnya kalau kamu memang cinta sama aku, kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan ketika bersama kamu. Memang benar, aku yang bilang kalau aku nggak cinta sama kamu waktu itu, tapi kamu nggak ngerti. Kamu nggak bisa ngerasakan kalau aku sayang banget sama kamu. Kamu nggak tahu, betapa berusahanya aku belajar mencintai kamu. Karena aku nggak pengen ngecewain kamu. Aku nggak pengen kamu sakit. Namun semua membuatku masih sulit untuk mencintai kamu. Akhirnya aku mencoba berani mengatakan itu semua dengan banyak pertimbangan, dengan korban perasaan. Mengorbankan cinta dan pacar pertamaku yang sangat aku cinta. Harusnya aku yang membenci kamu. Aku sudah tahu. Kalau kamu sengaja membuat kesalah pahaman antara aku dengan Fio. Semua yang aku lihat tentang keburukan Fio itu rekayasa kamu. Ternyata kamu hebat, hebat banget.”
“Nggak… Sama sekali nggak!!!” bantah Riko.
Seketika suasana menjadi hening. Aku, Revi dan Riko sama-sama membungkam seribu bahasa. Namun tiba-tiba seseorang dari arah lain berkata, “Tari…” Aku menoleh dengan perlahan bersama dengan langkah Riko menjauh, namun Revi menahannya.
“Tari, sejujurnya aku suka kamu. Mau nggak kamu jadi yang spesial dalam hatiku?” tembak Yoga di depan umum.
“Nggak!!!” jerit Revi dengan isakan tangisnya. Lantas jeritan Revi membuat semua pasang mata kebingungan, termasuk Riko, Yoga dan aku.
“Apa sih maksud kamu?” tanya Riko kepada Revi.
“Yoga, aku sayang sama kamu. Mulai kelas satu SMP kita sekelas aku sudah suka sama kamu. Aku sengaja pendam perasaan ini karena aku yakin kamu nggak bakal pacaran sebelum lulus SMA. Aku pengen kamu jadi pacarku.” Kata Revi.
Perkataan Revipun kembali membuat kita bingung. sementara Yoga terpaku mendengar sahabatnya sejak SMP diam-diam memendam hati untuk dirinya.
Akupun bertanya, “Lantas kenapa kamu pacaran dengan Riko?”
Namun rupanya Riko marah dan salah paham, “Oh, rupanya kamu sekongkol dengan Tari?”
“Apa maksud kamu? Nggak lah, ngapain.” Jawabku.
“Kalian nggak perlu bertengkar! Karena ini semua kesalahanku. 1 tahun yang lalu waktu kelas X, Yoga curhat kalau dia suka ke Tari, aku tahu kalau itu pertama kalinya Yoga jatuh cinta. Mengetahui hal itu aku kecewa dan di tempat lesku mempertemukan aku dengan seorang murid baru, seorang cowok yang mirip banget dengan Yoga yaitu Riko. Semua yang ada di diri kalian sama. Riko sepertinya menyukaiku dan akhirnya kita jadian. Riko, sebenarnya yang aku cinta bukan kamu tapi Yoga.” Panjang lebar Revi.
“Sejujurnya aku dan Riko pernah pacaran. Aku deketin kamu Yoga karena tiap kali aku deket kamu aku seakan kembali bersama Riko. Aku masih cinta sama Riko.” Kataku mencoba menjelaskan semua itu.
Ternyata tambatan hatiku dan Revi masih ada. Meski Riko dan Yoga dua orang yang berbeda tapi buat aku dan Revi kalian serasa orang yang sama.

Dear diary


Hai Di, udah lama banget Nadia ngga nulisin kamu yah, soalnya Nadia juga jarang buka folder Diary ini di komputer, maklum selama kuliah Nadia pakainya laptop dan komputer ini aku tinggal di rumah dan semenjak masuk SMA sampai sekarang kuliah Nadia jarang nulis Diary lagi di komputer atau laptop, ga sempet Di. Tapi rasanya sekarang pengen cerita-cerita lagi ke kamu Di. Di, banyak banget yang Nadia mau ceritain ke kamu. Bertahun tahun ga sempet cerita, Nadia kali ini mau cerita saat masa SMA dulu aja, karena mungkin cerita ini bisa mengawali cerita–cerita Nadia sampai uda beranjak dewasa sekarang.
Ceritanya berawal beberapa bulan setelah awal masuk SMA dulu, di suatu pagi Nadia sama temen-temen ngomongin tentang cowok masing-masing. Di masih inget sama si Deni kan? cowoknya Nadia? yang pake kaca mata itu Di, sebelumnya uda pernah Nadia ceritain tapi uda lama banget…
Nah abis cerita-cerita tentang cowok masing-masing itu tadi Di, Nadia jadi malu banget deh sama dia. Dia soalnya ngga kayak cowok-cowok temen Nadia yang lain Di. Sebel deh sama si Deni, Bayangin deh Di, ga matanya aja yang minus tapi dirinya jg semua minus!
Si Deni nih yah :
Minus 10 karena dia waktu itu ngga punya handphone!!! padahal cowok-cowok temen Nadia yang lain punya handphone pas dari pertama masuk SMA..
Minus 10 karena motornya Deni itu bisa di bilang cuma motor bebek butut gitu Di, padahal cowok-cowok temen Nadia itu motornya walaupun sama-sama motor bebek, tapi pada keluaran baru, bagus-bagus, malahan ada yang pake motor gede jadi tambah kelihatan keren banget kan..
Minus 10 karena dia itu rambutnya cuma biasa banget, padahal cowok-cowok temen Nadia yang lain itu rambutnya gaya abiis..
Minus 10 buat dia karena dia itu ngga suka ke tempat-tempat dugem Di! padahal cowoknya temen-temen Nadia suka banget ngajakin ceweknya ke sana, malu banget ngga sih punya cowok kayak gitu..
Minus 10 buat dia lagi Di! karena dia ngga punya satu pun jacket merk distro gitu, padahal cowok-cowok temen Nadia yang lain sering banget belanja di sana, kalau dia sih paling pakai bajunya bangsa bangsa jacket yang merek biasa aja (idih banget ngga sih Di!)
Minus 10 banget (dan yang ini banget banget banget!!!) karena dia masih suka bawa makanan dari rumah buat makan siang ke sekolah! gila yah Di malu-maluin banget ngga sih!
Sumpah yah Di, Nadia malu banget sama dia, kayaknya mau putus aja deh waktu itu Di setelah tahu si Deni ternyata kaya gitu Di..
Lalu suatu ketika pas hari valentine, walaupun sebenarnya si Deni ga suka ma hari kaya gini tapi waktu itu Deni ke kelas Nadia mau kasih kado valentine, Nadia sengaja cuma diem aja. Seharian itu Di, Nadia ngindarin dia abis-abisan, dia bingung gitu kayaknya Di, kenapa Nadia ngindar terus.
Sampai rumah dia nelepon Nadia, karena emang si Deni belum punya Handphone buat smsan. Nadia males tapi ngomong sama dia Di, Nadia suruh pembantu bilang ke Deni kalau Nadia belum pulang. Dia nelepon 4 kali hari itu tapi Nadia males nerima.
Kira-kira 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Nadia ngindarin si Deni pake cara ke WC cewek lah atau ngumpet-ngumpet lah, dan di rumah Nadia selalu ngga mau nerima telepon dari dia, kayaknya Nadia bener-bener udah ilfeel dan malu pacaran sama dia Di!
Akhirnya waktu itu hari Senin, Seperti biasa pas di sekolah, Nadia ngindarin dia. Pas pulang sekolah Deni ngumpul di kantin sama temen-temen Nadia. Mereka pada nanya kok Nadia ngindarin si Deni? terus Nadia diem aja, tapi setelah di desak akhirnya Nadia ngaku juga
Nadia ngomong, “Ah bete banget gue sama tuh cowok, udah ngga ada modal mendingan gaul, dan mukanya setelah gue pikir-pikir biasa banget, ya ampun kok gue dulu mau yah jadi sama dia? di pelet kali yah gue!” tiba-tiba semua pada diem dan ngeliat ke arah punggung Nadia, Nadia bingung dan nengok ke belakang, ya Tuhan Di! ternyata ada Deni di belakang Nadia dan kayaknya dia denger yang Nadia baru ucapin barusan…
Nadia cuma bisa diem tapi Nadia sempet ngeliat Deni sebentar. Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus dia pelan-pelan pergi dari situ. Nadia diem aja, temen-temen nadia ada beberapa yang ngomong “hayo loo Nad, dia denger lho!” Tapi ada juga yg ngomong, “Udahlah Nad, baguslah denger, ngga ada untungnya tetep sama dia, ntar elo juga bisa dapet yang lebih bagus.” Bener juga yah Di. Ya udah Nadia cuek aja, syukur deh kalau dia denger! Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Nadia.
Dua hari pun berlalu Di, dan sejak saat Deni udah ngga berusaha nyamperin Nadia di sekolah atau nelepon Nadia. Tiap ketemu di sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Nadia aja..
Seminggu berlalu, lalu dua minggu berlalu sejak hari itu, Nadia mulai ngerasa ada sesuatu yang ilang Di, ngga tau kenapa Nadia mulai ngerasa kehilangan sesuatu, kadang-kadang Nadia suka bengong bingung sendiri, Cuma Nadia berusaha ilangin perasaan itu. Vella ngga tau kenapa jadi males ke mana-mana, pengennya sendiri aja, males ngapa-ngapain. Semua orang jadi bingung kenapa Nadia berubah jadi kayak gini. Nadia sendiri juga ngga tau kenapa Di.
Lalu di hari Minggu malem, Nadia masih inget banget ujan turun deres banget, Nadia diem dan ngerenung di dalam kamar. Tiba tiba di channel V ada lagunya Janet JaCkson Di! Tau kan liriknya? … ‘Doesn’t really matter what the eyes is seeing, Cause im in love with the Inner being’… Saat itu tiba-tiba Nadia nangis Di, Nadia baru sadar… Betapa baiknya Deni… Nadia nangis – senangisnya Di, karena Nadia juga baru sadar betapa begonya Nadia…
Minus 10 karena Deni ngga punya Hp Di, tapi plus 100 karena dia tiap malem rela jalan jauh ke wartel buat Nelpon Nadia ngucapin selamat tidur setiap hari, setiap hari…
Minus 10 karena dia ngga punya motor yang bagus. Tapi plus 100 karena tiap malem minggu dia rela naik motor bututnya jauh dari rumahnya khusus ngapelin Nadia biar ujan sekalipun…
Minus 10 karena dia rambutnya cuma biasa dan ngga suka di model-model, tapi plus 100 karena dalam keadaan rambut Nadia apapun baik bagus maupun lagi jelek, mau salah potong atau salah blow atau salah model dia selalu bilang Nadia cantik banget dengan senyum polosnya…
Minus 10 karena dia ngga suka ke tempat dugem Di, tapi plus 100 karena dia rela nemenin Nadia ke tempat-tempat yg Nadia perlu banget walau jauh skalipun, meski dia kadang ngga suka dan rela dimarahin ortunya karena pulang pagi nemenin Nadia… dengan naik bus ke rumahnya…
Minus 10 karena si Deni ngga punya jacket merk distro dan hanya punya jacket biasa, tapi plus 100 karena kalau ujan di sekolah dia selalu minjemin Nadia jacketnya meski dia sendiri kedinginan…
Minus 10 karena dia bawa makan siang ke sekolah, tapi plus 100 karena ternyata dia nabung uang jajan makan siangnya buat beli kado valentine buat Nadia dan buat beli HP biar bisa smsan sama Nadia…
Dari 60 minus yg Deni punya Di, dia punya 600 Plus di hati Nadia… dari 1000 kekurangan Deni, dia punya semilyar kebaikan… ya Tuhan Di, betapa begonya Nadia yah… Nadia yang beruntung sebenernya punya cowok seperti Deni, dan Nadia juga yang nyakitin si Deni, padahal ngga pernah sekalipun dia nyakitin Nadia. Malemnya vella nangis lama banget Di..
Esok harinya Nadia ketemu sama Deni di sekolah. Nadia kejar dia dan bilang Nadia mau ngomong, Deni diem aja, tapi pulang sekolah dia nanya Nadia mau ngomong apa. Nadia kasih dia kartu buatan Nadia, Nadia cium pipi dia dan Nadia bilang minta maaf karena Nadia udah nyakitin dia. Dia cuma diem aja terus pulang…
Nadia cuma bisa diem karena sadar, Nadia yang berbuat, Nadia juga yang kehilangan… Sakit banget rasanya Di, Nadia pulang sekolah nangis tapi juga sadar itu semua Nadia yang bikin dan Nadia pula yang nanggung resiko-nya…
Malem itu tiba-tiba mama ngetok pintu kamar Nadia, katanya ada telepon. Ternyata bener Di itu Deni, dia udah maafin Nadia, dia udah lupain semuanya.. aduh Di, girang banget hati Nadia, hihihihihi senengnya..
Malam minggunya Deni mau ke rumah Nadia Di, dan Nadia dandan secantik-cantiknya buat Deni malam itu..
Udahan dulu yah Di… thanks banget udah denger curhat-nya Nadia, Nadia belajar satu hal Di, Hargailah apa yang kamu miliki sekarang, karena tanpa kamu sadari, kamu begitu beruntung telah memiliki-nya. Selamat malam Diary ku…
NB: Minus 10 Di, karena mukanya tidak tampan, tapi plus 100 karena hatinya luar biasa tampan… karena dia tulus sayang ma Nadia..

R.I.P

Kau terbang menghampiriku.
“Sendiri?” tanyamu.
Aku menggelengkan kepala, tidak mau menjawab, maksudku. Tetapi sepertinya kau salah mengerti.
“Ooo. Di mana sahabat-sahabatmu?”
Sebenarnya kamu siapa? Untuk apa menanyakan sahabat-sahabatku? Pergilah. Aku ingin sendiri. Ku tak ingin seorang pun mengganggu, tidak juga kau.
Aku mengangkat bahu sekedarnya hanya untuk menghargai pertanyaan dan kehadiranmu yang tak kuharapkan. Tapi, nampaknya kau masih salah mengerti.
“Mereka belum datang?”
Mereka telah pergi.
“Atau mereka pergi sebentar?”
Tidak seperti yang kau bayangkan. Kau tentu berpikir, barusan sahabat-sahabatku ada bersamaku, lalu beberapa menit sebelum kau datang, mereka pergi meninggalkan aku. Mungkin ke ujung kampung, mungkin ke tengah kampung, mungkin ke toilet atau entah ke mana saja. Kau pikir mereka pergi sebentar saja untuk satu keperluan kecil dan akan segera kembali.
Maaf, aku tak sedang ingin menjawab pertanyaan-pertayaanmu.
Kuhela nafas dalam-dalam dan hembuskan sekaligus. Aku berharap dengan begitu engkau dapat mengerti kalau yang terjadi tak sesedarhana yang kau pikirkan.
“Ya” katamu seraya menghembuskan nafas pula, “hari-hari terakhir ini memang sangat panas.”
Benar. Hari-hari terakhir ini memang sangat panas. Tetapi, lagi-lagi kau salah mengerti. Rupanya kau tak begitu pandai membaca bahasa tubuh. Tarikan dan hembusan nafasku tadi bukan karena panas yang menyengat ini.
“Aku sering memperhatikan kalian berkumpul di sini.”
“O ya?” Kau sering memperhatikan kami? “Terima Kasih.” Tapi, apa itu penting bagi kami?
“Sepertinya kalian begitu akrab.”
Sebenarnya lebih dari sekedar akrab, karib, dekat, erat, maupun…
Ya sudahlah, tak mengapa jika kau gambarkan hubungan kami seperti itu. Itu yang kau lihat. Meski memang berbeda dengan yang kami jalani. Tidak apa-apa.
“Apa kau sedang ada masalah?”
“Mmm? Tidak.”
Maaf sobat, aku sedang tidak ingin menceritakan padamu apa yang sebenarnya sedang ku alami.
“Apa kau sedang bersedih?”
Lebih dari sedih sobat.
“Tidak.” Sebaiknya aku tidak jujur padamu. “Aku tidak sedang bersedih.”
“Ooo.”
Syukurlah jika kau percaya pada jawabanku. Aku tak perlu menjelaskan kepadamu mengapa aku bersedih. Aku pun tak mesti menceritakan kepadamu apa yang tejadi baru-baru ini.
“Ke mana sahabat-sahabatmu? Mereka belum juga kembali. Lama sekali mereka pergi?”
Tidak salah lagi. Kau telah salah mengerti. Kau kira sahabat-sahabatku pergi ke suatu tempat yang tak terlalu penting, untuk keperluan sepele. Kau pikir mereka pergi sebentar dan akan kembali lagi. Sekali lagi, kau salah.
“Apa mereka menyuruhmu menunggu di sini?”
Tidak pernah. Mereka tak meninggalkan secarik pesan pun.
“Tunggu saja. Mungkin mereka akan segera datang. Mungkin juga…” mereka tak akan kembali.
“Apa kau tidak keberatan jika aku menemanimu menunggu sahabat-sahabatmu datang?”
Aku ingin sendiri tetapi… “Terima kasih sobat. Aku senang bila engkau tulus ingin menemaniku.”
Jika ingin berkata jujur, aku sebenarnya ragu dengan niatmu. Sampai kapan kau akan bertahan bersamaku menunggu mereka?
“Maaf. Apa boleh ku tanyakan sesuatu lagi padamu?”
“Tanyakan saja.” Aku pun ingin bertanya padamu sobat, apa kau wartawan? Sejak tadi kau hanya bertanya. “Jika aku dapat menjawab, akan ku jawab.”
“Maafkan aku jika aku lancang. Apa kalian berlima datang dari tanah Timur Jauh? Aku bertanya demikian karena warna sayap kalian…”
“Kau benar sobat.” Sadarkah kau? Ini kali pertama kau berkata benar. “Kami datang dari tanah seberang, tanah Timur Jauh. Sayap kami hitam, jauh berbeda dengan punyamu.”
“Maukah kalian menerimaku sebagai sahabat?”
“Hahaha…” Menjadi sahabat? “Benarkah sobat?” Mestinya akulah yang bertanya demikian kepadamu, sebab diriku jauh dari sempurna. “Aku tentu sungguh bahagia bisa menjadi sahabatmu”
“Hahaha… sudah kuduga, kalian begitu bersahabat.”
“Terima kasih.” Andai saja kejadian itu tak terjadi, tentu sahabatmu kini tak hanya diriku.
“Bagaimana jika sambil menunggu mereka pulang, aku pergi sebentar mencari sedikit makanan dan minuman. Kau tentu haus dan lapar. Aku akan bawakan pula untuk mereka berempat”
“Terima kasih, Sobat.”
Sobat, apa kau satu-satunya kumbang yang tak tahu apa yang terjadi beberapa hari lalu di kota ini? Tentang sekelompok manusia bertopeng yang lari berhamburan masuk gedung itu. Mereka membawa serta masing-masing sepucuk senjata api yang dapat meletus kapan saja, membunuh siapa saja.
Ketika itu, kami sedang menikmati angin sepoi. Kelompok manusia bertopeng itu lari berhamburan melintasi taman ini. Kami panik. Beberapa saat sebelum terdengar bunyi letusan senjata api dan pekik kemenangan di gedung itu, isi perut sahabat-sahabatku telah terburai keluar di taman ini. Sepatu kulit mereka sudah meremukkan tubuh empat sahabatku.
Sahabat-sahabatku telah pergi dan tak akan kembali. Kini, kau pergi pula. Semoga hanya sebentar. Aku di sini. Apa yang dapat ku lakukan? Aku hanya bisa menunggu.
Kumbang-kumbang yang malang. RIP.